Minggu, 08 Februari 2009

Seni Kentrung Diambang Kepunahan

Oleh : Abdul Azis El Dimy

Seni Kentrung Sepi Generasi Penerus

JEPARA-Seperti kesenian tradisional lainnya, seni kentrung pun kini nasibnya juga merana. Bagaimana tidak ditengah arus globalisasi yang ditandai dengan perkembangan Iptek dan teknologi, perkembangan seni kontemporer makin banyak bermunculan. Seni yang bersifat instant dan mudah berganti makin banyak digemari.

Sementara, seni yang sudah lama dan mengakar di masyarakat serta mempunyai sejarah panjang dan merupakan tradisi yang ditelurkan turun temurun kini makin digilas zaman; tidak terkecuali kesenian kentrung. Yang masih ada dan kini bisa dilihat hanya sisa-sisa kejayaan masa lalu. Akankah seni kentrung bakal lenyap dimakan waktu?

Ya salah satu saksi hidup pergulatan eksistensi seni kentrung adalah Mbah Suparmo yang biasa dipanggil mbah Marmo. Pria yang sudah berumur senja yaitu 60 tahun ini sampai sekarang masih terus melestarikan budaya leluhur.

“Aku kepengen seni kentrung ono sing nerusno. Eman-eman nak ora ono sing nggenteni. Kentrung kuwi pancen angel mesti butuh kesabaran nak arep iso,” ungkapnya.

Keinginan Mbak Marmo memang beralasan. Bagaimana tidak sampai saat ini pelaku seni kentrung yang benar-benar fasih menguasainya tinggal generasi tua. Sedangkan generasi muda sangat jarang yang mau nguri-uri tradisi penuh makna ini.

Sudah sekitar tahun 1970-an Mbah Marmo memainkan kentrung. Dari desa ke desa sudah dilalui. Sejumlah kota di Indonesia juga pernah disinggahi mbah Marmo.

Tahun 1982-an, Mbah Marmo sudah ikut pentas di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) setelah dia dan sejumlah rekannya berhasil menjadi jawara di Jepara maupun tingkat Jateng.

“Aku ora ngiro iso tekan ngendi-ngendi lewat kentgrung. Aku pernah manggung ning PRPP Semarang. Dadi aku iso klencer ning ngendi-ngendi lewat kentrung. Dadi kentrung ngrejeni kanggo aku,” ungkapnya.

Bagi Mbah Marmo memang tidak muluk-muluk yang diharapkannya; yaitu adanya regenerasi. Usia yang makin senja membuat bapak beranak empat ini mengaku berharap bahwa kesenian kentrung bisa diwariskan ke generasi selanjutnya. “Aku wis tuwo. Sak mestine kudu ono sing genteni kentrung,” ungkapnya. (*)


Kejayaan Kentrung Beranjak Sirna

JEPARA-Kesenian kentrung kian hari kian suram nasibnya. Kejayaan masa lalu kini sudah tidak berpihak lagi pada kesenian yang penuh dengan petuah agung ini. Banyak masyarakat mulai enggan menggunakan kesenian kentrung dalam berbagai kegiatan sebagaimana pernah terjadi pada beberapa dasawara silam.

Dari jumlah pertunjukkan yang dilakoni Mbah Marmo-panggilan akrab Suparmo sangat jauh dari pernah digapainya beberapa waktu yang silam. Kini seni kentrung hanya bisa dilihat dalam acara-acara tertentu saja. Lebih dari itu apalagi dalam hiburan rakyat, kini jauh bergeser ke era budaya instant.

“Ndek niko akeh sing nanggap kentrung. Angger dino mesti ono sing nanggap kentrung. Dadi jaman semono tahu 80-an, iso diarani angger bengi mesti entuk undangan soko wargo (kala itu banyak yang mempertontonkan kentrung. Setiap hari pasti ada yang mengundang kesenian kentrung. Jadi saat itu tahun 80-an bisa disebut setiap malam pasti ada undangan dari warga untuk memmpertunjukkan kentrung,” ungkapnya.

Setiap malam Marmo bersama ayahnya dan sejumlah termasuk Karisan selalu mendapatkan job. Berbagai acara mulai dari khitanan, nikah, dll banyak memanfaatkan kesenian kentrung untuk. Bisa dibilang tidak ada hari libur. Setiap ada kesempatan, Mbah Marmo bersama rombongan pasti datang.

Kini waktu telah berganti. Pertunjukkan malam yang pernah dirasakan sebagai hiruk pikuk pun seolah terasa sepi. Hanya beberapa masyarakat yang masih setia menggunakan seni kentrung dalam merayakan sejumlah kegiatan entah nikah, khitan maupun sejumlah kegiatan lainnya.

“Sak niki saget diitung. Tanggapan kentrung ning ngendi wae wis sepi ora koyo jaman kae. Saiki cah enom-enom do seneng nonton dangdut, campur sari lan liya-liyane,” ungkap Mbah Marmo.

Sejumlah warga memang masih mengundang Mbah Marmo dalam sejumlah perayaan seperti mapati, mitoni, kelahiran, khitan, syukuran dan lain-lain. Namun kebanyakan acara tersebut biasanya orang mempunyai harapan atau cita tertentu biasa disebut nadhar. “Sing akeh nanggap akeh-akehe nduwe kekarep dadi ora sembarangan wong sing nanggap. Biasanya wong nduwe kekarep. Contoh asale bayine metu angel terus dinadhari nek metu selamat bayine ditanggapno kentrung. Lha bar dinadhari koyo ngono jebulane jabang bayine iso lahir selamet. Dadi terus ditanggapno kentrung (kebanyakan yang mengundang kentrung kebanyakan orang yang mempunyai hajat tertentu jadi tidak banyak orang yang mengundang kentrung. Kebanyakan orang yang mempunyai hajat tertentu. Contohnya ada bayi yang sulit keluar kemudian dinadhari mau mempertontonkan seni kentrung. Ternyata setelah itu bayinya lahir dengan selamat. Jadi kemudian dipertontonkan seni kentrung,” ungkapnya dalam Bahasa Jawa.

Mbah Parmo menjelaskan jika sejarah cerita tentang seni kentrung begitu sarat makna. Jika dilihat sepintas kesenian ini memang seolah hanya tabuhan suara alat terbang dikombinasikan dengan suara manusia yang bersautan.

Namun jika ditelusuri lebih dalam mengenai scenario dalam cerita kentrung pasti bakal mengasyikan. Penuh pesan yang sangat dalam. Sayangnya hanya sedikit orang yang melihat kentrung dengan melihat pesan yang disampaikan.

Sama dengan pertunjukkan kesenian lainnya seolah-olah seni kentrung hanya dilihat ketika ada bait-bait pantun yang sering mengundang kelucuan bagi yang mendengarnya. Namun, cerita mengenai beberapa lakon dalam kentrung yang sebetulnya merupakan esensi dari kesenian ini sendiri terabaikan begitu saja. (*)

Tidak Boleh Melanggar Pakem Kentrung

Bisa Kualat Jika Menyalahi Aturan

JEPARA-Pentas Seni Kentrung mesti memakai berbagai aturan yang sudah diwariskan turun temurun. Jika tidak diyakini orang yang memainkannya terkena balak atau bencana.

Seni kentrung tidak jauh berbeda dengan kesenian yang sudah lama mendarah daging. Dia mempunyai sejumlah aturan atau pakem yang mesti dilaksanakan. Hal ini bagian dari upaya menjaga kelestarian.

Mbah Marmo menjelaskan sebelum naik ke panggung mesti ada sejumlah doa pembukaan yang dipanjatkan. Begitu juga saat akan turun dari pertunjukkan pun mesti ada doa penutup. Doa penutup terdiri sejumlah kalimat berbahasa Arab dicampur dengan kalimat dengan Bahasa Jawa.

Selain ritual doa, tuan rumah pun mesti menyebutkan hajatnya kepada seniman kentrung. Itu sebagai salah satu prasyarat karena jika itu tidak dilakukan maka bisa malati atau membawa bencana.

Mbah Marmo mempunyai pengalaman saat menerima undangan pentas di Batealit. Ternyata tuan rumah tidak menyebutkan hajat apa yang diinginkan.

“Bakda manggung ning kono tekan omah. Sing nduwe gawe marani ning omah. Jarene anake loro. Mrene njaluk tombo kanggo anake sing wetenge loro. Yo wis terus tak jupukno pinggirane alat terbang. Terus tak kon ngombekno anae. Ndalalah yo waras,” ungkapnya.

Selain malati bagi orang lain. Pertunjukkan seni kentrung juga sangat dijaga kemurniannya. Segala proses dan pakem termasuk cerita lakon tidak boleh diubah-ubah.

“Aku wedi nak nglakokno seni kentrung sembarangan. Ceritane ora oleh diubah-ubah. Mengko iso malati. Ngantek seprene yo ceritane ngono-ngono wae ora oleh dirubah-rubah,” jelasnya.

Secara garis besar ada tujuh cerita dalam pertunjukkan kentrung yang mesti dimainkan dari masa ke masa. Ketujuh lakon itu adalah Angling Darma, Jalak Emas, Murtosiyah, Amat Muhammad, Juwarsah, Mursodo, Mancing dan Juwarmanik.

Selain ketujuh lakon cerita tersebut ada juga cerita lain. Namun hal itu mesti disesuaikan dengan daerah-daerah tertentu.

Setiap satu pementasan tidak boleh lebih dari satu cerita. Dalam pertunjukkanya satu cerita mesti diselesaikan dan disampaikan secara utuh. “Ogak ilok di wolak-walik ceritane. Kudune sak pertunjukkan kentrung yo ceritane siji tapi tuntas ora oleh ngloncat-ngloncat. Ora ilok dicampur aduk,” ujarnya.

Setiap pementasan satu lakon dari tujuh cerita yang ada, rata-rata menghabiskan waktu berjam-jam. Biasanya Mbah Parmo mulai pertunjukkan kentrung pukul 21.00 WIB sampai 03.30 WIB.

Untuk menghilangkan kepenatan selama pertunjukkan maka pemaparan cerita juga diselingi dengan lontaran pantun yang bisa mengocok perut orang. Sebetulnya keberadaan pantun tidak ada dalam pakem. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pantun bisa menambah suasana segar dalam pertunjukkan kentrung.

“Ireng-ireng dudu tunggak, kayu dadap dipakoni, nak kadong seneng gak keno dipenggak”. Demikian salah satu bait pantun yang sering diucapkan pemain kentrung di atas panggung yang cukup menggelitik orang agar tetap fresh menghadapi dinginnya malam.

Secara garis besar pementasan seni kentrung menghadirkan dua pemain kentrung. Satu pemain menceritakan kisah-kisah dari lakon yang dipilih. Sementara satu pemain lainnya, nyambi menjadi tukang pantun. Antara paparan cerita dengan nada pantun berselang-seling. “Onone pantun kanggo tombo gen ora ngantuk,” ungkap Mbah Parmo. (*)


Perlu Kaderisasi dan Inovasi

JEPARA-Zaman selalu berubah. Jika tidak berubah pasti digilas zaman. Jika ingin mempertahankan kentrung perlu solusi konkrit berupa adaptasi berupa kompromi terhadap perkembangan zaman. Begitulah setiap budaya pasti selalu bersentuhan dengan budaya lain guna membentuk tradisi baru guna mempertahankan eksistensi.

Hadi Priyanto mantan Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) menjelaskan kesenian kentrung maupun seni lainnya tidak bisa diklaim merupakan seni sebuah daerah. “Kesenian itu pasti akan melakukan akulturasi dengan budaya lain maupun budaya setempat. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa seni kentrung asli dari daerah ini atau apa,” ujarnya.

Dari sejarahnya, Hadi memperkirakan seni kentrung masuk sezaman dengan penyebaran agama Islam. Kesenian ini bagian dari salah satu media komunikasi menyebarkan nilai-nilai agama ini.

Terpisah Ketua Paguyuban Kesenian Tradisional Amin Ayahudi mengatakan kesenian kentrung di Jepara tidak punah melainkan menurun baik dari sisi penonton maupun dari sisi jumlah senimannya. “Di Jepara kalau tidak salah ada tiga kelompok yang masih bertahan. Yang dua sudah tidak aktif dan tinggal yang satu kelompok yang masih aktif,” bebernya.

Sampai sejauh ini eksistensi seni kentrung masih bisa dinikmati meski jumlahnya juga tidak sebanyak saat zaman keemasannya. Salah satu hal yang cukup membuat seni ini bisa bertahan yaitu masih adanya even-even yang diselenggarakan Pemkab yang melibatkan seniman kentrung. “Pada saat-saat tertentu seni kentrung masih ditanggap,” jelasnya.

Ayahudi cukup optimis bahwa seni ini masih bisa bertahan karena masih ada generasi penerusnya meski jumlahnya sangat minim sekali. “Kita sangat mendukung sekali adanya kaderisasi guna kelangsungan seni ini di masa-masa datang,” jelasnya.

Selain dari sisi penerus, Ayahudi melihat salah satu hal yang bisa memberi pondasi kukuh agar seni ini tidak punah dengan cara melakukan adaptasi dengan budaya-budaya saat ini. “Materi seni harus berkembang. Seniman kentrung pun mesti berkembang pula,” imbuhnya.

Ayahudi berterima kasih atas perhatian Pemkab karena dalam beberapa even, seni tradisional termasuk kentrung diikutsertakan. Hal itu sedikit banyak bisa memberi nafas panjang bagi seni yang sudah merakyat ini.

Dia juga meminta kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk lebih memperhatikan lagi seni ini. “Dinas terkait bisa melakukan pembinaan terhadap seni tradisional termasuk seni kentrung,” terangnya. (*)


Akan dilakukan Penggalian dan Pemetaan Seni Kentrung

JEPARA-Keberadaan seni kentrung di Jepara sedikit banyak memberikan inspirasi bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang merupakan struktur baru dibawah Pemkab sedikit banyak membuat upaya pelestarian seni ini dimulai dari awal lagi.

Choeron Syarifudin Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang sebelumnya hanya menjabat sebagai kepala dinas pariwisata saja tanpa diembeli kebudayaan membuatnya mesti melakukan restrukturisasi dari awal lagi terkait perhatian terhadap kesenian ini.

“Dinas ini baru diresmikan 31 Desember tahun lalu. Ya saya baru satu bulan memegang dinas dengan STOK yang baru ini. Meski demikian saya juga berkomunikasi dengan sejumlah seniman maupun DKD meski belum secara formal untuk merumuskan bagaimana melestarikan seni tradisional ini,” jelasnya.

Sebelum bisa merumuskan langkah terbaik melakukan pelestarian maupun pengembangan seni tradisional termasuk didalamnya seni kentrung, Choeron mengaku akan melakukan pertemuan dengan DKD yang membawahi kesenian yang ada di Jepara.

Mengenai seni kentrung, Choeron mengaku masih akan mendata lebih dalam mengenai seni ini. Menurutnya tidak semua seni yang ada kemudian dipaksakan untuk mendapatkan perhatian. Meski demikian pada prinsipnya jika memang seni tersebut tradisional maka pasti akan dilakukan upaya pelestarian.

Bersama dengan seni tradisional lainnya, Pemkab melalui dinasnya, lanjut Choeron, akan berusaha seoptimal mungkin memperhatikan seni-seni tradisional yang ada di Jepara misalnya dalam bentuk memfasilitasi dana melalui APBD. Meski demikian perlu ada formula yang tepat sebelum kearah sana. (*)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut