Rabu, 18 Februari 2009

Catatan Kang Abas

Hidup = Palsu, Kematian = Nyata

Lereng Muria, Jepara, 18 Februari 2009

Perasaan gundah menggelayuti benak kita setiap hari. Ketakutan. Gundah. Takut. Bingung. Jealous. Pak tetangga kita punya mobil masak kita tidak punya. Pah teman kita mobil baru, mengapa kita tidak membeli juga. Seabrek pertanyaan itu terus mengganggu benak kita. Deretan pertanyaan itu meluncur deras dari bibir orang dekat kita; istri, anak.

Sergapan-sergapan kata itu seakan seperti peluru yang hendak mengoyak jantung kita. Dia seolah menohok tenggorokan kita. Jika mampu memang tidak ada masalah karena untuk sementara bisa menuruti keinginan istri atau anak. Namun apa yang terjadi jika pemasukan kita tidak sebanding permintaan itu.

Tidak urung kehidupan hedonis yang serba instan dan cepat berubah membuat orang berlomba-lomba menumpuk uang. Uang dianggap raja. Tidak sedikit pula menahbiskan uang sebagai "Tuhan". Sungguh itu riil di depan kita. Pernah dengar ungkapan ada uang abang sayang, tidak ada uang abang benci.

Betapa nilai-nilai hakiki hidup sudah tergerus nilai materalis. Hidup gotong royong. Hormat menghormati tanpa melihat back ground apakah dia kaya atau miskin kini seolah barang langka. Sulitnya bukan main mencari masyarakat yang masih hidup sederhana. Guyub. Penuh toleransi karena kedekatan emosional.

Kembali ke soal hakekat hidup yang kini sudah terasa hambar. Bumbu penyedap berupa kejujuran, saling mengasihi, menghormati, dan nilai-nilai yang luhur sudah menghilang pelan tapi pasti dari permukaan bumi. Manusia sekarang bisa dikatakan hanyalah seonggok daging tanpa makna. Nilai kemanusiannya sudah nol. Hati nuraninya sudah terkubur dalam nilai hedonis dan materalistis.

Pangkal persoalan dekadensi moral seperti ini seolah mengikuti teori keniscayaan bahwa ada tesa, antitesa dan sintesa. Sintesa kemudian jadi tesa dan seterusnya. Seolah sejarah yang terus berulang bahwa nafsu, keserakahan pasti akan terus melengkapi manusia dalam perjalanan sejarah menuju ke kehidupan hakiki di surga.

Pandangan manusia terhadap dunia sudah bergeser 180 derajat. Uang. Uang dan Uang. Kehidupan dengan logika materalisme jelas memandang dunia hanya sekedar tempat jual beli. Maknanya bahwa jika kita menjual mesti harus untung. Spirit untung rugi inilah yang membuat manusia makin kehilangan jati diri.

Ajaran agama yang kuat hilang. Filosofi hidup mampir ngombe kini seolah hanya menjadi batu nisan yang teronggok tidak terawat. Menurut manusia modern kematian yang sejatinya merupakan tujuan dari kehidupan dibalik. Bahwa hidup yang sesungguhnya ya hidup ini. Sekarang ya sekarang. Nanti ya nanti.

Ketakutan agama yang pernah berjaya yaitu ganjaran surga dan neraka sudah tidak menjadi obat yang manjur dan jitu untuk menekan penyakit hedonis. Fatwa ulama yang kini menjamur juga dianggap sampah dan mesti dibuang ke tempat pembuangan. Sungguh sisi kemanusian manusia telah hilang.

Manusia kini seolah hanya sebagai robot yang tidak mempunyai hati. Pikirannya hanya uang. Dengan uang bisa membeli segalanya. Bahkan dalam ranah agama, pun mulai dicemari pemikirang yang aneh tapi riil. Bahwa surga bisa dibeli dengan uang. Contoh haji adalah sarana menuju ke surga. Tidak peduli apakah uang itu merampok, memeras, hasil kejahatan dan lainnya tidak diindahka.

Yang penting haji syarat mutlak menuju surga-Nya. Manusia tidak pernah memikirkan proses yang terjadi. Proses yang benar dianggap hanya menghambat. Bagaimana uang bisa membungkam segalanya. Seolah tuhan yang sebetulnya mempunyai otoritas tinggi pun dilecehkan. Seolah dengan haji bisa menyuap Allah agar bisa masuk surga.

Logika yang diharapkan tuhan bahwa segala hal mesti diteliti prosesnya. Satu demi satu harus dijalankan dengan benar. Dengan demikian muaranya bagaimana memandang suatu proses menjadi hal nomor satu yang wajib diutamakan.

Alangkah indahnya jika logika berpikir manusia memandang hidup sebagai sebuah kesementaraan. Dia fana. Tidak kekal. Jika manusia bisa berpikir seperti ini jelas akan kembali membangkitkan potensi jiwa dan hati nurani.

Jika logika kematian digunakan maka Insya Allah tidak ada kejahatan. Manusia semuanya berlomba-lomba berbuat kebaik. Tidak ingin melakukan kejahatan apapun. Tidak merusak alam. Tidak ada bencana banjir. Tidak ada pertumpahan darah. Tidak ada pencuri. Tidak ada perampok.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut