Minggu, 08 Februari 2009

Metamorfosa promosi PLTN


oleh Hasan Aoni Aziz US


Penolakan berbagai elemen masyarakat Jepara terhadap bantuan laboratorium nuklir Batan untuk SMA Islam Jepara menghiasi halaman koran Jawa Tengah awal Desember lalu. Isu ini menghubungkan kembali rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Mereka menilai, bantuan laboratorium nuklir adalah cara baru Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional) memromosikan PLTN Muria.

Sepanjang 2008, Batan rajin melakukan program diseminasi (penyemaian) iptek nuklir. Diseminasi dilakukan dalam bentuk bantuan laboratorium dan bantuan benih tanaman hasil radiasi nuklir.

Adakah hubungan bantuan-bantuan itu dengan PLTN?

Nuklir dan PLTN

Nuklir telah lama berperan dalam dunia kesehatan, industri, geologi, juga pertanian. Sebagai badan nasional yang menangani nuklir, Batan melakukan berbagai riset iradiasi isotop dan menyokong dunia kesehatan dan farmasi Indonesia. Di bidang pertanian ditemukan benih padi (Mira) dan kedelai (Muria, Meratus, Mitani, dan Rajabasa) mutan hasil radiasi.

Namun, orang yang paham teknologi akan memahami bahwa risiko teknologi selalu tertanam dalam rancangannya. Dunia kedokteran menyarankan, penyinaran ronsen sebaiknya dilakukan enam bulan sekali. Lebih dari itu berisiko mematikan sel-sel tubuh lebih besar. Sedang, konsumsi biji hasil pemuliaan benih radiasi masih menjadi kontroversi dunia.

Penolakan masyarakat Muria agaknya tidak dalam kapasitas itu. Mereka menganggap dalam bantuan itu tertanam promosi pembangunan PLTN.

PLTN adalah pembangkit berbahan bakar uranium. Memiliki risiko radiasi mematikan saat terjadi kecelakaan, baik oleh kegagalan, kelalaian operasi maupun bencana alam. Kasus ledakan PLTN Chernobyl Ukraina, bekas negara Uni Soviet (1986), Three Mile Island Amerika (1979), serta PLTN Kashiwazaki Jepang akibat gempa (2007) menjadi sindroma kuat yang tertanam di benak masyarakat Muria.

Dari head on ke hidden

Pilihan diseminasi nuklir melalui lembaga pendidikan dan pertanian adalah metamorfosa promosi PLTN Batan hasil pembelajaran tahun 2007. Komunikasi langsung (head on) sepanjang 2007 telah menuai tentangan. Batan merubah model komunikasi itu melalui diseminasi nuklir.

Dalam ilmu komunikasi pendekatan ini disebut hidden communicate (menyampaikan secara terselubung). Ada dua sasaran model ini. Pertama, di ranah kognitif masyarakat akan memahami nuklir dan PLTN sebagai iptek yang positif. Untuk mendukung ini, Kementerian Riset dan Teknologi mengeluarkan buku suplemen untuk SMP berjudul “PLTN, Manfaat dan Potensi Bahayanya” (2007).

Dalam diskusi bersama Marem, Percik dan Listhia akhir Nopember lalu disimpulkan bahwa buku ini bisa menyesatkan. Terdapat bias antara nuklir dan PLTN serta amat menyederhanakan aspek bahaya PLTN. Mengingatkan kita pada pelajaran sejarah di sekolah tentang G-30 S-PKI serta film-film tentangnya di era Orde Baru yang sangat distortif terhadap sejarah.

Sebuah kuesioner Batan atas pengetahuan 60 guru MGMP di Demak, serta poll tingkat pengetahuan mahasiwa Semarang tahun 2008 tentang nuklir dan PLTN mendorong Batan melakukan diseminasi (www.infonuklir.com).

Mengapa siswa SMP dan mahasiswa menjadi sasaran? Tampaknya Batan sangat paham apa arti “cohort”. Cohort adalah segmen sasaran usia tertentu yang pada kurun selanjutnya berpotensi menjadi pembela apa yang ditransformasikan sekarang. Dunia internet telah menuai pasar cohort netter mulai 2000-an setelah pada dekade 90-an dihujani beribu informasi tentang dunia maya.

Kedua, bantuan laboratorium bisa memunculkan bond of merit (rasa utang budi). Makin banyak penerima bantuan, makin banyak pula dukungan. Pencapaian sasaran akan melampaui tidak saja pemahaman (kognitif), tetapi juga sikap setuju (afektif) dan keputusan menerima (psikomotorik) PLTN.

Belajar dari Jepang

Jepang adalah negara yang lebih dari 30 persen total kebutuhan listriknya dipasok PLTN. Sebagai negara yang sepi sumber energi dan sulit keluar dari kebutuhan PLTN karena industrialisasi yang pesat, juga mendapat tentangan masyarakat. Sebagai upaya promosi, Pemerintah Jepang melakukan program diseminasi nuklir.

Batan belajar dari Jepang dan membuat kerjasama dalam Memorandum of Cooperation on the Promotion on Nuclear Power Plant Development, 22 Nopember 2007. Bahkan Jepang melalui Jetro mengucurkan bantuan Rp. 2,5 M berpatungan dengan Kaico dari Korsel untuk kepentingan sosialisasi. Cara-cara pendekatan diseminasi yang dilakukan Jepang kini ditiru Batan.

Pada ultah ke-50 Batan, Menteri Ristek Kusmayanto Kadiman berkata, dari keempat program FEW+H atau food, energy, water, and health, bidang energi paling sulit diwujudkan. Hal ini karena isu PLTN masih berkubang di ranah sosiopolitik. Maka, Batan perlu melakukan pembelajaran publik (Kompas, 5/12/08).

Tapi, gerakan masyarakat lokal anti-PLTN di Jepang berbeda dengan masyarakat di sekitar Muria. Di Jepang masyakarat terhimpun ke dalam struktur sosial monolitik, yang penentangannya lebih mencirikan perjuangan kelas.

Sedang, masyarakat Muria berbaur bersama, terdiri atas petani, nelayan, pekerja, kaum agamawan, mahasiswa, juga pengusaha. “Sebuah gerakan civil society yang unik,” kata Richard Tanter, peneliti RMIT University Australia.

Batan suatu saat mungkin kembali memilih model head on, karena Pemerintah atas nama kepentingan publik dapat memaksa PLTN. Toh dalam persepektif ke-Amdal-an, penolakan masyarakat hanya ditempatkan sebagai variabel pelengkap daripada pencegah. Pemerintah akan membangun alasan oleh apa yang di-fait a comply sebagai krisis sumber energi. Sesuatu yang ditentang kelompok anti-PLTN sebagai krisis managemen energi.

Dalam ancaman krisis itu, Indonesia kelak akan memasuki zaman gelap, yang hanya akan terang jika memilih PLTN. Sesuatu yang oleh kelompok anti-PLTN dinilai absurd, karena Indonesia amat kaya sumber energi terbarukan, seperti panas bumi, surya, gelombang laut, angin dan biofuel.

Metamorfosa ke head on akan kembali dipilih hanya jika program diseminasi berhasil meluluskan cohort-cohort PLTN.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut