Senin, 09 Maret 2009

Catatan Kang Abas tentang Pemilu

Lembah Muria, 09 Maret 2009


Meretas Asa Baru Bernama Perubahan!

Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 kini di depan pintu. Selangkah lagi kita kembali dipaksa untuk memilih wakil-wakil kita di DPR, DPRD I dan DPRD II. Mengapa saya menggunakan istilah ”dipaksa”. Kata ini memang menurut hemat saya tepat, mengingat selama ini tradisi dalam memilih, para pemilih memilih wakil rakyat dalam keadaan terpaksa.

Kondisi kejiwaan kita saat memberikan pilihan ke bilik suara tidak dalam kondisi sempurna. Entah karena dipaksa dalam tanda kutip ”sudah diberi uang” oleh tim sukses, sehingga kita dipaksa mengalihkan suara hati nurani ke pilihan pemberi uang.

Belum lagi faktor lain contoh karena ayah punya pilihan si Anu, entah karena perasaan ewuh pakewuh, suara kita pun tidak jauh berbeda dengan pilihan ayah kita atau saudara kita. Masih banyak faktor lain yang membuat pilihan kita makin tidak independen dalam memberikan suara, sesuai dengan logika serta hati nurani kita.

Kondisi ini makin mendapatkan tempat saat putusan Mahkamah Konstitusi (MK) makin membuka pintu lebar dengan mekanisme bahwa wakil rakyat yang duduk di kursi dewan terhormat adalah mereka mengantongi suara terbanyak.

Saya bukan hendak menghakimi putusan MA. Saya sangat mendukung putusan ini. MA sudah dalam jalur benar. Putusan suara terbanyak telah mengembalikan substansi demokrasi. Siapa yang mendapatkan simpati dan dukungan riil masyarakat terbanyak dialah yang berhak duduk mewakili konsitituen.

Bila sebelum suara terbanyak diberlakukan; banyak Caleg nomor jadi ongkang-ongkang. Kini dengan mekanisme yang ditetapkan MA tersebut, seluruh Caleg mulai dari nomor urut kecil hingga nomor buntut pun harus bekerja keras mendulang suara. Sampai sini saya sepakat!

Yang menjadi kegerahan kekhawatiran tentang mekanisme suara terbanyak adalah sistem ini membuka lahan subur bagi pemilik uang. Mereka dengan mudah mendapatkan suara. Jika kita lihat sejauh ini fenomena dengan kran demokrasi dengan suara terbanyak ibarat mata uang.

Satu sisi mengandung makna bagus. Suara terbanyak rakyat menjadi hal yang positif untuk membuka kesempatan yang sama. Namun sisi lain, suara terbanyak membuat miris kita.

Ditengah budaya hedonis dan materialistis yakni gaya hidup yang mengutamakan kesenangan duniawi dan mengedepankan penguasaan materi, suara pemilih rawan dibajak dengan money. Bagaimana tidak sebelum adanya suara terbanyak fenomena money politik luar biasa terjadi. Apalagi dengan suara terbanyak kran money politik makin terbuka lebar.

Kekuasaan jadi tidaknya seorang Caleg memang kini ditangan pemilih. Bak raja, pemilih bisa seenak hatinya menjatuhkan pilihan. Jika dalam memilih, sang raja ”pemilih” bisa memanfaatkan kebijakan dan mendengarkan suara hati serta menggunakan rasionalitas yang cerdas, pilihan jelas tidak sia-sia.

Smentara jika para pemilih hanya menggunakan logika uang ada suara, maka demokrasi dalam ambang bahaya. Caleg terpilih yang akan memadati ruang-ruang sidang hanyalah segerombolan para pemodal dan tengkulak bisnis. Logikanya jelas karena sudah bersusah payah mengeluarkan hingga ratusan juta, ketika menjadi anggota dewan harus bisa mengembalikan modal yang sudah keluar. Kalau sepakat dengan ide saya silahkan. Jika tidak monggo.

Bahaya laten penguasa gedung rakyat bakal dikuasai para kaum borjuis jelas akan membahayakan sendi-sendi kemanusiaan dan harkat martabat masyarakat. Aspirasi masyarakat hanya menjadi lipstik bagi anggota wakil rakyat yang notabene sesungguhnya pemilik modal. Bisa disebut wakil rakyat yang akan memenuhi ruangan paripurna pada masa-masa mendatang dimungkinkan hanya orang-orang ini yang berbaju wakil rakyat saja tapi sebetulnya hanya lintah darat yang setiap saat siap menghisap darah rakyat.

Karena itu momentum Pemilu 2009 yang jatuh pada 9 April mendatang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mematahkan asumsi-asumsi saya di atas. Sekali lagi jangan sampai para kaum pemilik modal menjadi Caleg. Wakil rakyat yang kita butuhkan tidak lain hanya seorang yang benar-benar cerdas, tegas dan memiliki hati nurani menyampaikan suara rakyat. Hidup rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan ! Viva demokrasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut